Wednesday, July 24, 2013

Goddess of Fire, Jungyi Recap Episode 6



 Episode 6 ini masih dipenuhi dengan adegan lucu dan humoris dan siapa yang mengira kalau Jung memilih menyamar sebagai pria dan masih menyembunyikan jati dirinya dari Gwanghae dan Taedo. Dipenuhi kesalahpahaman, konflik dan humor yang sarkastis ironis.
EPISODE 6
          Jung bertemu dengan Gwanghae asli dan ia tidak mau dituduh pencuri karena kemarin ia sudah berniat mengembalikannya. Kedua orang itu kemudian beradu mulut. Gwanghae dan Jung sama-sama keras kepala tapi tidak ada yang membuka jati dirinya. Akhirnya Jung mengaku kalau sabuk giok itu sudah dicuri. Pencurinya tentu saja adalah Taedo. Jung dan Gwanghae akhirnya pergi ke pasar untuk melacak pencuri itu. Di tengah perjalanan Jung berpura-pura sepatunya rusak dan minta dibelikan sepatu ke Gwanghae. Ia minta sepatu termahal ke pedagangnya dan tebak berapa harganya? Dan nyang (5 keping)!! Hahha. *FYI Bagi penggemar Painter of The Wind dan nyang adalah sebutan pasangan Yun Bok-Jeong Hyang (Dan Nyang Couple), drama yang dibintangi Moon Geun Young dan Moon Chae Won. Penulis drama ini pasti memasukkan meta komedi disini dan mungkin penggemar POTW *
          Gwanghae dengan berat hati membayar harga sepatu. Jung lalu pergi ke sebuah warung dengan alasan dia harus makan dulu sebelum bisa berpikir. Di warung itu ia mencari cara untuk mengalihkan perhatian Gwanghae. Tiba-tiba ia berpura-pura sakit perut dan berteriak “Aigoo, aigoo” (POTW re-enact) sambil berlari menyambar salah satu sepatu Gwanghae. Jung melemparnya ke arah pengawal. Gwanghae kebingungan dan Jung kabur. Namun, baru beberapa langkah, Gwanghae menangkapnya. Sekarang Gwanghae menalikan tangannya dan tangan Jung supaya ia tidak bisa kabur. Sementara itu sabuk Gwanghae sampai ke tangan pedagang. Pedagang Chun ingin menemui penyuplai kobalt ke Bunwon tetapi Hwaryung menawarkan diri. Taedo kemudian menemani Hwaryung. Hwaryung bertemu penyuplai kobalt (bahan dasar warna biru pada keramik) yang lebih mirip preman. Setelah direndahkan beberapa kali, Hwaryung akhirnya menebar ancaman. Namun begitu sampai di luar ia jatuh lemas dan ditolong Taedo.
            Jung dan Gwanghae pergi menemui bandit. Jung bercerita pada bandit bahwa seorang pencuri telah mencuri sabuk dan mendeskripsikan orangnya seperti Gwanghae. Otomatis para bandit berpikir pencurinya adalah Gwanghae. Mereka berdua diikuti para bandit dan segera berlari. Para bandit menyerang Gwanghae sedangkan Jung pergi bersembunyi dan hanya melempari mereka dengan batu yang beberapa kali hampir mengenai Gwanghae. Hee. Setelah bandit pergi, barulah Jung bertanya apa yang akan terjadi kalau sabuknya tidak ada. Gwanghae berkata efeknya ia akan mendapat masalah besar. Setelah itu Jung meminta tangan mereka berdua diikat lagi agar tidak bisa kabur, tapi Gwanghae menolak. Jung kemudian datang ke tabib dan meminta obat untuk segala penyakit gurunya. Begitu ia keluar, Gwanghae sudah menghilang.
           Di pasar ada pengumuman bahwa Bunwon membutuhkan pemuda sehat yang bersedia bekerja sebagai pembuat keramik. Jung melihat pengumuman itu, lalu teringat dengan janjinya, ia lalu mengambil pengumuman itu dan menyimpannya. Gwanghae menemui Pedagang Chun tapi sabuk itu sudah tidak ada. Pedagang Chun menolak memberitahu siapa yang menyuruhnya. Kemungkinan sih perdana menteri (PM). Akhirnya Gwanghae pun pergi.
          
          Di istana, Gwanghae diganggu Imhae yang memintanya supaya membayar tagihan minumnya. Tapi Gwanghae pergi begitu saja meninggalkan Imhae yang kecewa. Saat Raja memimpin rapat, PM mengungkapkan bahwa sabuk giok Gwanghae ditemukan di tempat yang tidak semestinya. Raja marah dan menghukum Gwanghae. Hukumannya adalah menurunkan posisinya dari Kepala Saongwon (departemen di bidang seni yang membawahi Bunwon) menjadi Asisten Kepala. Sedangkan Pangeran Sinsong menjadi Kepala, dengan kata lain Gwanghae menjadi asisten adik tirinya. Ratu Inbin senang dengan pengangkatan anaknya sedangkan anaknya merasa segan menjadi atasan Gwanghae.
           Beberapa saat kemudian Gwanghae diganggu Imhae dan kemudian harus bertemu ibu tirinya, Ratu Inbin. Ratu berkata wajar jika Gwanghae senang mengunjungi rumah gisaeng dan meminta anaknya dijaga dengan baik. Gwanghae hanya bisa terdiam dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa itu semua bukan salahnya. Disisi lain, Jung sudah kembali ke rumah gurunya dengan membawa obat-obatan. Gwanghae mengajari Sinsong tata cara di Bunwon. Sinsong awalnya enggan apalagi saat ia diperkenalkan sebagai Kepala Bunwon yang baru menggantikan Gwanghae. Kangchon senang karena ia bisa memperkuat posisinya dan Yukdo di Bunwon. Sedangkan ayah Hwaryung berencana mendekati Yukdo. Saat Yukdo memeriksa keramik yang baru saja dilukis, ayah Hwaryung datang. Yukdo menunjukkan ia tidak senang dengan hasil lukisan dari Dohwaseo (Biro Pelukis Kerajaan) karena pelukisnya asal-asalan melukis diatas keramik. Yukdo ingin tahu dimana ia bisa mendapat pewarna biru yang lebih baik disbanding yang biasa dikirim dari Dohwaseo. Ayah Hwaryung dengan senang hati membantu.
           Sementara itu, Kangchon datang berkunjung ke Pedagang Chun. Ia kecewa dengan keramik dari pedagang itu akhir-akhir ini. Ia pun ingin membatalkan kontrak. Kangchon minum-minum dengan PM. Ternyata ia hanya ingin menakut-nakuti Pedagang Chun. Di lain pihak, pedagang Chun tidak kehabisan akal. Ia segera menyuruh Hwaryung menemui Yukdo secara langsung karena menurutnya anak Kangchon adalah titik lemahnya. Jung berkemas menuju istana dengan menyamar sebagai pria. Ia sudah menyiapkan obat untuk gurunya dan memasukkannya ke semua botol anggur gurunya. Jadi tidak ada alasan bagi gurunya untuk tidak meminum obat. Jung juga membawa sepatu Taedo lengkap dengan talinya yang sekarang berwarna hitam (pas dikasih Taedo warnanya biru gelap).
       Di malam yang sama Taedo menangkap bandit-bandit yang menyelundupkan keramik. Ia mengikat mereka ke tiang kayu dan merobek bagian lengan atas baju mereka. Tidak ada yang punya bekas luka. Taedo hanya mendesah karena belum menemukan pembunuh Euldam. Esoknya Jung bersiap berangkat dan gurunya memberinya nama baru, Tae Pyung. Mereka berdua berpisah dengan berkaca-kaca. Jung alias Tae Pyung pergi ke makam ayahnya dengan berlinang air mata. Ia berjanji akan menjadi pembuat keramik terbaik. Ia berhenti dan makan di sebuah warung lalu bertanya arah ke Bunwon. Namun, ternyata Jung dihadang oleh para bandit. Taedo datang dan melihat para bandit itu. Bandit-bandit itu kecewa karena isi tas Jung hanya sepasang sandal. Mereka melempar sandal itu dan ditangkap Taedo. Mereka pun segera menghilang karena takut terhadap Taedo. Taedo terkejut karena itu adalah sandalnya dulu. Ia pun pergi mencari Jung.
        Di tempat lain, Yukdo menemui Hwaryung. Ia terperangah oleh kecantikan Hwaryung. Hwaryung menawarkan hwae hwae cheong, pewarna biru yang diimpor (barang impor selalu lebih bagus sepertinya). Hwaryung terus mempesona Yukdo dan setelah berhasil ia kembali ke rumah Pedagang Chun. Di Bunwon Yukdo tidak bisa berpikir jernih karena teringat Hwaryung. Sedangkan Taedo mencari Jung di sekitar perkemahan. Disisi lain, Jung duduk diluar karena tidak punya tempat menginap. Ia teringat bahwa di bungkusan itu ada sandal Taedo yang selalu ia jaga dengan baik. Taedo mendekatinya perlahan dan memandanginya. Jung balik menatapnya. Mereka berdua seakan bertanya siapa gerangan orang di hadapan mereka ini.
KESIMPULAN
                Akhirnya Taedo bertemu dengan Jung lagi. Walaupun nantinya kemungkinan Taedo masih akan menganggap Jung sebagai pria. Di episode kali ini saya kembali teringat oleh drama sageuk Moon Geun Young terakhir, yakni Painter of The Wind. Penulis drama Goddess of Fire ini mungkin saja penggemar drama itu sehingga memasukkan unsur yang mirip atau yang bersinggungan dengan drama POTW. Pertama, penyamaran Jung sebagai lelaki yang mirip dengan plot POTW dimana karakter MGY menyamar sebagai lelaki agar bisa menjadi pelukis istana. Walaupun penyamaran MGY di POTW sebagai lelaki jauh lebih meyakinkan dibandingkan di GOF. Mungkin karena karakternya di POTW hidup sebagai lelaki selama bertahun-tahun, sedangkan di GOF Jung baru memutuskan menyamar sebelum ia menjadi pengrajin keramik. Kedua, referensi dan nyang (5 coins) yang mungkin menyinggung Dan Nyang Couple di POTW. Ketiga, referensi Dohwaseo ketika Yukdo memeriksa keramik dan kebutuhan Yukdo akan pewarna biru. Keempat, adegan Jung yang sakit perut dan ekspresi yang hampir sama dengan karakter Yun Bok di POTW yang mengaduh kesakitan ketika kumis palsunya dicabut. Bahkan, karakter Jung dan Yun Bok hampir mirip, dimana mereka adalah jenius di bidangnya yang ayahnya dibunuh karena banyak orang yang tidak suka dengannya dan mereka harus menyamar sebagai pria agar dapat diterima bekerja di istana. Mereka juga humoris, ceria, sedikit nakal, namun memiliki semangat dan tekad yang kuat. Saya tidak keberatan dengan referensi POTW entah disengaja atau tidak, tapi itu menunjukkan kurangnya kreativitas penulis dalam menyusun cerita yang baru. Oleh karena itu, saya tunggu kejutan dari penulis untuk mengembangkan cerita GOF menjadi cerita yang baru, bukan sekedar drama yang hampir sama, hanya berbeda nama karakter dan latar belakang.

Goddess of Fire Recap Episode 5


Akhirnya setelah menunggu selama 4,5 episode para pemeran utama muncul di drama ini dengan keunikan dan kehebatan masing-masing. Moon Geun Young, Lee Sang Yoon, Kim Bum, dan Lee Kwang Soo akhirnya muncul dan menimbulkan sedikit kesalahpahaman diantara mereka. Kwang Soo in particular is hilariously funny!!
EPISODE 5
          Gwanghae dan Taedo berkuda menuju rumah Jung untuk meyakinkan Jung bekerja di Bunwon. Seperti di akhir episode 4, orang suruhan Kangchon, yang bernama Mapoong, pergi menyelinap ke rumah Jung. Ayahnya mengajak Jung ikut ke Bunwon, tetapi Jung menolak. Saat Jung pergi Mapoong datang dan akan membunuh Euldam dengan alasan dia adalah yang pengrajin keramik terbaik di Joseon dan hal itu akan menghambat Kangchon. Jung datang menolong tetapi mereka kalah dari pembunuh bayaran itu. Ayahnya ditusuk di bagian perut dan punggung, ayahnya pun sekarat. Taedo dan Gwanghae datang membantu dan bertarung melawan Mapoong. Sementara itu Euldam mengucapkan kata-kata terakhirnya ke Jung tetapi belum sempat menyelesaikan kata-katanya ia keburu meninggal.
          Jung berteriak histeris, Gwanghae datang ke arahnya tetapi hanya bisa terpaku. Taedo melawan Mapoong di hutan dan walaupun kalah, ia sempat menggores lengan lawannya dengan pedang. Taedo datang ke rumah Jung dan mendapati Jung pingsan. Sementara di tempat lain Kangchon puas karena berhasil membunuh Euldam karena menurutnya di bumi dua matahari tidak dapat terbit bersamaan (tidak mungkin ada 2 pemimpin di satu tempat). Esoknya Gwanghae mengabari Kangchon dan Kangchon pura-pura sedih karena temannya tiada. Setelah itu Kangchon bertemu PM yang berkomplot dengan dirinya.
       Di rumah Jung, Taedo dengan setia merawatnya. Saat ia tersadar, ia bingung karena ayahnya tidak ada di rumah (efek pasca ditinggal orang tersayang). Jung tidak bisa menerima kenyataan kalau ayahnya sudah tiada. Jung pun teringat kenangan-kenangan bersama ayahnya.
        Kangchon pergi menemui pedagang wanita yang bernama Chun. Chun bertanya kenapa ayah Jung keluar dari Bunwon. Kangchon menjawab karena ia adalah kriminal. Tiba-tiba Jung masuk dan mengkonfrontasi Kangchon. Jung tidak percaya ayahnya kriminal. Kangchon bercerita ayahnya pernah meracuni Selir Gongbin jadi ia dihukum, tetapi ia mendapat amnesti sehingga diperbolehkan menghirup udara bebas. Jung tidak dapat menerima itu. Kangchon malah semakin memperkeruh suasana dan memecahkan keramik buatan Euldam (drama ini hobi menunjukkan adegan orang memecahkan keramik, entah itu Jung, Kangchon, Imhae atau Hwaryung). Jung semakin marah dan bersumpah ia akan menjadi pengrajin keramik terbaik di Joseon demi membersihkan nama ayahnya dan supaya Kangchon mau minta maaf ke ayahnya. Kangchon hanya tertawa.
     Jung membulatkan tekad untuk menjadi pengrajin keramik. Namun, pedagang Chun mengingatkan bahwa dirinya adalah wanita dan tidak akan bisa menjadi seniman keramik apalagi orang yang tadi ia konfrontasi adalah Kangchon, sang master keramik di Bunwon. Jung pergi menemui Taedo lalu mereka berdua pergi ke tebing diatas sungai. Jung akan bunuh diri tapi dihentikan oleh Taedo. Akhirnya ia mengutarakan niatnya ke Taedo bahwa ia akan belajar keramik dan sementara ini ia akan bersembunyi. Ia lalu melempar sepatunya agar orang mengira ia sudah tiada (drama ini bener-bener suka klise, sekarang kematian palsu yang menjadi klise). Ia berjanji akan menemui Taedo lima tahun lagi. Taedo melepas sepatunya dan memberikannya ke Jung. Ia bahkan menalikan sepatu ke kaki Jung agar tidak terlepas karena sepatunya kebesaran. Jung akhirnya pergi untuk belajar keramik ke gurunya. Kabar Jung yang telah tewas sampai ke Gwanghae. Gwanghae menemukan sepatu Jung dan menyalahkan Taedo karena tidak menjaga Jung. Taedo hanya terdiam. Di kamarnya Gwanghae memegang sepatu Jung sambil berkata, “Jung, bagiku kamu adalah orang yang paling menyakitkan dan paling tidak toleran,”.
Sedangkan Taedo memegang sepatu Jung yang lain dan membatin, “Jung, alasanku melepaskanmu adalah karena aku takut kehilanganmu. Orang itu bukanlah bandit biasa, tetapi pembunuh. Saat kamu menyembunyikan diri, aku akan memperkuat diriku untuk melindungimu dari orang itu. Jung ah…” Oh, so sweet, dicintai sama 2 cowok keren dan ganteng hati Jung pasti meleleh.. Hahhaha
Sementara itu Jung datang ke rumah gurunya. Awalnya gurunya menolak karena ia wanita. Namun, setelah Jung membuktikan dirinya tidak akan menyerah, salah satunya dengan diam ditempat walau hujan deras membasahi sekujur tubuhnya (sekali lagi adegan alay di drama ini yang terlalu overdramatis dan klise) akhirnya gurunya mengijinkan Jung belajar membuat keramik. Jung dengan rajin membantu gurunya bersih-bersih, memasak, mengangkat air, menjemur pakaian, sampai-sampai ia  merasa sebagai pelayan, bukan murid. Ha. Dan akhirnya dalam satu adegan menjemur pakaian, Jung dewasa (Moon Geun Young) muncul. Di tempat lain, Taedo muda memanah dan yang mengambil panahnya adalah Taedo dewasa (Kim Bum).. Kyaa.. Hwaryung muda berhitung dan muncullah Hwaryung dewasa (Seo Hyun Jin). Begitu pula Yukdo dewasa (Park Geun Hyung), Imhae yang masih suka minum-minum dan ditemani gisaeng (Lee Kwang Soo!!) dan Gwanghae dewasa (Lee Sang Yoon) yang berbaring di dalam jebakan untuk mengenang Jung.
Jung sekarang sudah mengerti cara pembuatan keramik dan menjelaskan ke gurunya air mana yang paling cocok untuk dicampur tanah liat. Jung berkata bahwa keramik gurunya tidak akan bernilai banyak disini. Ia akan pergi ke ibukota Hanyang dengan memakai pakaian pria (so cute!!) untuk menjual keramik dan membeli obat untuk gurunya. Di istana raja menghadiahi Gwanghae sabuk giok yang sangat berharga atas jasa Gwanghae di Bunwon. Imhae cemburu dan tanpa diketahui Gwanghae ia pergi membawa sabuk giok itu.
Rupanya Imhae pergi ke rumah gisaeng (gibang). Ia bersenang-senang seperti orang gila. Di waktu yang sama Jung datang dan menawarkan keramik ke rumah gisaeng. Keramiknya hanya dihargai sejumlah aksesoris wanita. Namun, ia kemudian ditinggal sendiri karena ada rumor Pangeran Gwanghae datang. Disisi lain ternyata Imhae mengaku sebagai Gwanghae dan ia membuktikannya dengan memperlihatkan sabuk giok. Namun, begitu ia tahu bahwa ada menteri datang berkunjung ia berlari dan bersembunyi. Ia kemudian bersembunyi di ruangan Jung. Jung kaget dan mengira ia Gwanghae. Setelah keadaan aman, Imhae pergi dan meninggalkan sabuknya di ruangan Jung. Jung bertanya-tanya betapa berbedanya Gwanghae muda dengan Gwanghae yang baru ditemuinya.. Hahhahaha (saya tidak bisa berhenti tertawa begitu melihat adegan ini karena adegan ini diisi potongan adegan Gwanghae muda yang tampan dan diakhiri dengan wajah Imhae yang menyamar sebagai Gwanghae). Jung berpikir bahwa tugas pangeran pastilah berat sampai wajahnya berubah sedemikian rupa. Tapi ia baru menyadari sabuk yang tertinggal dan mengejar Imhae. Imhae yang panik malah memintanya menjaga sabuk itu dan Jung juga disuruh membayar tagihannya.
Jung kaget dan tidak tahu apa-apa tetapi semua aksesoris yang tadi dipakai untuk membayar keramik berganti menjadi milik kepala gisaeng lagi. Jung hanya geleng-geleng kepala. Sementara itu PM dan Pedagang Chun datang berkunjung dan mengetahui kalau sabuk giok Gwanghae dibawa oleh pemuda (Jung). Pedagang itu kemudian menyuruh Taedo mencuri sabuk giok dari pemuda tadi. Besoknya, Gwanghae baru tahu kalau sabuknya lenyap dan Imhae menyuruhnya mencarinya ke rumah gisaeng. Jung kembali ke rumah gisaeng, sebelum ia sempat membuka gerbang rumah gisaeng, sabuknya dicuri Taedo yang masih sempat tersenyum ke arah Jung(pencuri sabuk dan pencuri hati). Jung berteriak pencuri dan minta tolong dan saat itu juga seorang gisaeng membuka pintu dan membawanya ke Gwanghae. Sedangkan Taedo memegang sabuk itu dan duduk diatas tebing.
KESIMPULAN
           Banyak sekali yang terjadi di episode ini, mulai dari pembunuhan ayahnya Jung, konfrontasi Jung dengan Kangchon, tekad Jung untuk menjadi pembuat keramik, kematian palsunya yang hanya diketahui Taedo dan pertemuan kembali Jung dengan Taedo dan Gwanghae. Episode ini juga merupakan yang paling lucu dan segar dengan salah satu adegan terlucu dalam sebuah drama sejauh ini. Aktris pemeran Jung muda memang menarik, tetapi masih belum dapat mengalahkan kelucuan dan keimutan Moon Geun Young. Sejauh ini MGY masih menunjukkan sifat humoris dan ingin tahu. Sedangkan Jung muda kebanyakan berakting serius atau menangis. Setidaknya dengan Kwangsoo sebagai Imhae kita bisa mengharapkan banyak adegan lucu, baik yang disengaja maupun tidak. Satu hal yang saya cermati adalah cara Jung mengucapkan kata guru “sonsaengnim” dalam bahasa Korea. Jin Ji Hee mengucapkan “sonsaengnim”  tetapi MGY mengucapkannya dengan cepat hampir terdengar “susungnim”. Entah karena faktor dialek atau apa tetapi dalam 2 drama MGY yang bergenre sageuk ia selalu mengucapkan kata guru seperti itu. Overall, walaupun banyak adegan klise, drama ini patut untuk ditonton karena mengulas pekerjaan yang jarang dilirik orang, yakni pembuat keramik.








Goddess of Fire Recap Episode 1-4





Drama yang pertama kali saya recap ini berjudul Goddess of Fire, Jung-i. Dibintangi oleh Moon Geun Young, Lee Sang Yoon, Kim Bum, Lee Kwang Soo, Park Geun Hyung, dll drama ini menjadi salah satu drama yang paling saya tunggu di tahun 2013. Secara singkat drama yang berlatar belakang Korea di era Joseon ini menceritakan tentang kehidupan Baek Pa Sun, pengrajin keramik wanita pertama di Korea. Ia menikah dengan Kim Taedo dan sempat diculik pasukan Jepang saat Jepang menginvasi Korea di sekitar tahun 1500an. Walaupun tentu saja di drama ini, tidak semuanya merupakan kisah nyata dan penulis dan PD-nya sepertinya memang membuat perubahan cerita. Contoh yang paling jelas adalah menjadikan Pangeran Gwang Hae jatuh cinta pada Jungyi. Konflik dan persaingan diantara pembuat keramik dan kisah kasih antara Jungyi dan Pangeran Gwang Hae menjadi tema utama drama ini
Anyway, hari ini saya akan merecap 4 episode sekaligus, episode 1-4. Saya tidak bermaksud untuk mengecilkan peran tokoh-tokoh di 4 episode awal, terutama pemeran masa kecil masing-masing tokoh utama. Hanya saja menurut saya ceritanya jauh lebih menarik setelah memasuki episode 5 ketika para karakter sudah beranjak dewasa (terutama Kim Bum dan Moon Geun Young!! Hehhe).
EPISODE 1
Cerita dibuka dengan adegan pembuatan keramik, mulai dari mengolah tanah liat, membakarnya, hingga melukis permukaan keramik. Yu Jung (Jung-i) muda (diperankan oleh Jin Ji Hee) datang ke istana untuk mempersembahkan keramiknya pada raja. Raja Seonjo (Jung Bo Suk) yang berkuasa pada saat itu, mengagumi keramik buatan Jung-i. Jung-i (tambahan -i disini merupakan panggilan, namanya Yu Jung) lalu menoleh dan memanggil ayahnya. Dua orang pria menoleh dengan pandangan aneh, satu orang adalah ayah kandungnya dan satunya lagi adalah ayah angkatnya. Kedua orang itu adalah Yi Kangchon dan Yu Euldam, dua pengrajin keramik yang paling handal di Bunwon (Bengkel Keramik Kerajaan). Mereka akan berkompetisi untuk menjadi Master Keramik dan Kepala Bunwon. Di sisi lain Ratu Inbin dan Perdana Menteri merancang taktik untuk menjadikan orang kepercayaan mereka menduduki jabatan itu dan mereka memilih Kangchon. Mereka berdua bekerja di bengkel masing-masing dan Yu Euldam dibantu oleh seorang gadis muda.
Di Hari H, mereka mempersembahkan keramik buatannya ke hadapan raja dan ratu. Raja memuji hasil kreasi mereka. Namun, ternyata keramik buatan Yu Euldam mengandung racun dan meracuni selir raja. Ternyata selir alergi terhadap bunga persik dan keramik Euldam mengandung bunga persik yang digunakan untuk memperhalus permukaan keramik. Yu Euldam pun dijatuhi hukuman berat. Namun, gadis muda yang bekerja di Bunwon rupanya tahu hal itu merupakan akal-akalan Yi Kangchon dan ratu. Ia menghadap Kangchon dan mengancamnya, ia bahkan berbicara tentang anak yang dikandungnya. Yi Kangchon teringat akan nasihat peramal bahwa lahirnya anak lain selain Yukdo (anak lelakinya) akan membawa kehancuran dirinya. Ia pun menyuruh bawahannya melenyapkan gadis itu.
Gadis itu memohon supaya tidak dibunuh dan ia pun lari. Di tengah malam, di istana lahirlah bayi Gwanghae dan Raja memberi amnesti pada setiap tahanan di hari itu sehingga Yu Euldam bebas. Di malam yang sama gadis muda tadi melahirkan di sebuah tempat pembakaran keramik. Erangannya terdengar Euldam bersamaan dengan bunyi petir yang menggelegar (salah satu efek alay di drama ini yang terkadang terlalu dramatis). Lahirlah bayi Jung-i! Ibu Jungyi meninggal setelah melahirkan dan meninggalkan Jung-i ke Yu Euldam. Ia ingin anaknya menjadi pembuat keramik terbaik di Joseon dan meminta Euldam menjaga anaknya dengan baik.
Bertahun-tahun kemudian Yu Jung memiliki teman Shim Hwaryung dan Kim Taedo. Hwaryung berguru ke ayahnya Jung yang sekarang tinggal di pedesaan. Sedangkan Jung lebih suka belajar memanah dan menggunakan pedang bersama Taedo. Suatu hari mereka berdua berburu babi hutan dan rusa. Di hari itu rombongan kerajaan juga pergi berburu, termasuk Pangeran Gwanghae dan Imhae. Jadi, secara teknis di drama ini Gwanghae dan Jung memiliki umur dan tanggal lahir yang sama. Imhae selalu kalah dari adiknya tetapi ia juga selalu iri dan dengki. Ia punya kecenderungan inferior (inferiority complex) sedangkan Gwanghae selalu lebih bijaksana dan dewasa.
Di tengah perjalanan ia terjerembap ke dalam jebakan binatang yang diset Taedo dan Jung. Ia berteriak minta tolong dan sesaat kemudian Jung lewat. Gwanghae mengaku dirinya jatuh dan digigit ular. Jung pun membantu dengan mengulurkan tangannya. Namun, Gwanghae menarik dirinya dan dia pun terjatuh tepat di pelukan Gwanghae. Adegan ini bahkan diulang beberapa saat kemudian dan sekarang giliran Gwanghae yang berada di atas tubuh Jung. Di dalam jebakan itu mereka bertengkar seperti anak kecil dan menyalahkan satu sama lain. Di lain pihak, Imhae dan Taedo mencari Gwanghae di hutan. Jung yang awalnya tidak percaya bahwa Gwanghae adalah pangeran langsung terperangah ketika mendengar teriakan dari para pencari Gwanghae dan konfirmasi Gwanghae sendiri.
EPISODE 2             


 

Episode 2 diawali dengan flashback sekilas ke episode 1 dan kemudian kembali ke adegan pencarian Pangeran Gwanghae. Di dalam jebakan, Jung masih tidak percaya bahwa Gwanghae adalah Yang Mulia Pangeran dan menolak memberi hormat. Ketika pengawal kerajaan semakin mendekat, Jung panik dan memukul kepala belakang Gwanghae dengan pedang. Ia pun terkapar tak sadarkan diri. Jung pun semakin bertambah panik. Namun, untungnya Taedo segera datang dan mengulurkan tali ke Jung. Sedangkan Gwanghae ditinggalkan begitu saja di jebakan (kasihan!). Ketika ia terbangun, Jung sudah tidak ada dan ia pun kebingungan. Akhirnya pengawal kerajaan datang dan menolongnya. Saat ia kembali ke perkemahan bersama Imhae, Imhae menyuruhnya menjelaskan jasa Imhae dalam menolongnya. Carmuk alias cari muka ke raja!
           Jung masih diliputi perasaan bersalah dan bahkan ia bersembunyi ketika rombongan kerajaan datang berkunjung menemui ayahnya. Jung takut dilihat oleh Pangeran dan mengira ia akan dihukum berat karena menyakiti keluarga kerajaan. Rupanya maksud kedatangan raja dan pangeran adalah meminta Yu Euldam membuat keramik untuk persiapan upacara kerajaan. Awalnya Euldam menolak, tapi akhirnya menerima dengan berat hati. Di istana, Ratu dan bawahannya ingin memperkuat posisi mereka dan menjadikan Pangeran Sinsong sebagai Putra Mahkota. Salah satunya dengan menyuap para menteri untuk mendukung Kangchon dan Sinsong. Sementara itu, Yukdo dengan tekun membuat keramik. Ketika ayahnya datang, Yukdo mengatakan bahwa ia mempersiapkan keramik untuk upacara.
Keesokan harinya para menteri mendesak raja untuk memilih Putra Mahkota. Raja pun menguji dan memberi tugas kepada masing-masing anaknya. Gwanghae menjadi pemimpin upacara dan diberi tanggung jawab menjaga keramik Raja Taejo (pendiri Joseon). Imhae pun kecewa. Ha. Kabar bahwa Yu Euldam akan membuat keramik untuk upacara sampai ke telinga Yi Kangchon dan Yi Yukdo dan membuat mereka kecewa. Disisi lain, salah satu bawahan di Bunwon rupanya menyelundupkan keramik keluar istana dan menjualnya ke pedagang wanita yang kaya raya. Namun, baru sesaat ia memiliki uang hasil barang selundupan itu, ia berjudi dan uangnya raib dijarah perampok.
Di rumah Jung, cinta segitiga terjadi antara Jung, Taedo, dan Hwaryung. Rupanya Hwaryung memendam perasaan ke Taedo, namun ia tidak bisa menerimanya. Sedangkan Jung tidak tahu apa-apa karena ia tertidur dan bersandar di bahu Taedo. Rupanya bawahan tadi adalah ayah Hwaryung dan ia punya hutang banyak ke pedagang wanita. Jika Hwaryung ingin menebus hutang ayahnya, ia harus bekerja ke pedagang itu. Besoknya, Hwaryung meninggalkan rumah Jung. Taedo mengantarnya dan di sepanjang perjalanan mereka berbicara tentang Jung dan mengapa Taedo tidak dapat menerima Hwaryung. Hwaryung lalu memeluk Taedo dari belakang untuk menjelaskan perasaannya. So sweet
Seteah Hwaryung pergi, Jung membantu ayahnya membuat keramik. Jung bahkan bertanya apakah ayahnya dulu juga membuat keramik bersama ibunya. Ayahnya mengiyakannya. Mereka kemudian didatangi oleh Kangchon yang ingin memanas-manasi Euldam. Ia bahkan mengejek Euldam yang akhirnya bisa menikah dan punya anak (padahal anak kandungnya sendiri). Namun, disisi lain anak Kangchon, Yukdo, malah ingin berguru ke Euldam. Jung pergi bermain ke hutan bersama Taedo. Ia melihat Gwanghae dan segera bersembunyi. Namun Gwanghae melihatnya tetapi belum sempat Gwanghae menemui Jung, ia dihadang Taedo. Ia pun hampir kalah dari Taedo. Kangchon akhirnya menemui Imhae dan mendukung Imhae untuk menjadi pemimpin upacara. Imhae yang sudah merasa inferior menjadi marah pada adiknya. Ia pun mendatangi ruangan tempat Keramik raja Taejo diletakkan. Imhae yang mabuk membuat onar di ruangan upacara. Ia marah ke Gwanghae dan memecahkan pot Raja Taejo.
EPISODE 3





                Imhae memecahkan pot keramik Raja Taejo. Gwanghae otomatis marah, namun akhirnya ia mengakui bahwa itu salahnya karena membiarkan orang mabuk masuk ke ruangan upacara. Imhae bingung dan melarang Gwanghae menemui raja. Ketika mereka berdua menghadap raja, di ruangan sudah ada Ratu Inbin dan Pangeran Insong, mereka pun tidak jadi menyampaikan berita pecahnya keramik. Esoknya, Kangchon dan Yukdo sudah mengetahui hal itu sedangkan Gwanghae meminta bantuan ke pedagang keramik tempat Hwaryung bekerja. Ia disarankan oleh Hwaryung untuk membawa itu ke Jung.
                Saat Gwanghae pergi ke rumah Jung, ia menangkap Jung yang jatuh dari atas kuda (dengan tambahan efek slow motion yang alay). Buntalan berisi keramik yang sudah pecah pun terjatuh. Jung mengira ia yang memecahkan keramik itu dan meyakinkan Gwanghae bahwa ia akan memperbaikinya. Awalnya Gwanghae skeptis, tetapi akhirnya Gwanghae memberi waktu 5 hari untuk memperbaiki. Ternyata konsekuensi dari pecahnya keramik itu sangat besar, memecahkan berarti tindakan pengkhianatan dan memperbaiki juga tindakan pengkhianatan (bagaikan makan buah simalakama).
       Di istana Imhae memarahi pengawalnya yang membiarkan Gwanghae pergi tanpa memberitahunya. Ia pun kemudian menemui Kangchon di Bunwon. Kangchon memintanya menyerahkan segala urusan padanya. Di sisi lain Jung dan Taedo menyusun pecahan keramik dan ada satu bagian keramik yang hilang. Bagian yang hilang itu ditemukan oleh Yukdo di ruangan upacara dan ia pun meminta izin ayahnya menemui Euldam. Tentu saja ayahnya menolak. Euldam menolong Jung dan membawa keramik ke rumah gurunya namun di tengah perjalanan ia dirampok. Jung datang membantu dan mereka pergi ke rumah guru ayahnya.
                Ayahnya ingin beban memperbaiki keramik itu jatuh ke tangannya namun Jung menolak dan bertekad memperbaiki sendiri. Jung harus mencari diantara puluhan pot, tanah liat yang tepat dan sesuai untuk keramik itu, tanah liat dari Gunung Keumgang. Namun ternyata diantara pot-pot itu tanah liat dari G.Keumgang tidak ada dan Jung pun mencampur beberapa macam tanah liat agar menghasilkan adonan yang sesuai. Guru ayahnya pun memuji bakatnya yang katanya sudah terlihat dari lahir.
                Sementara itu Taedo dan Euldam pergi ke istana untuk menemui Gwanghae. Euldam meminta agar Jung dibebaskan dari tanggung jawab supaya ia yang menanggung akibatnya. Sedangkan Taedo mempertunjukkan keahlian memanah di hadapan pengawal istana. Kangchon memperlihatkan kepada Yukdo tentang keramik yang diperbaiki setelah pecah. Dari luar memang tidak kelihatan, tapi kalau terkena air panas, keramik tadi akan memperlihatkan retakannya dan bocor. Kangchon memperlihatkan ini untuk menunjukkan Yukdo tugas memperbaiki keramik hampir mustahil dijalankan, apalagi kalau memakai putih telur sebagai perekatnya. Namun Jung tidak memakai putih telur tetapi memakai resin dari cacing tanah seperti anjuran gurunya. Bagian yang hilang ia ganti dengan tanah liat baru yang ia bakar. Setelah Jung tertidur, gurunya menyempurnakan hasil kerja Jung. Ia melapisi permukaan keramik, memperbaiki bagian yang kurang sempurna, dan merapikannya. Persis seperti aslinya.
                Keesokan harinya, Jung dan Taedo bertemu Gwanghae di pasar. Gwanghae menarik Jung menjauh dari keramaian. Sedangkan Taedo berlari dari kejaran pengawal istana dan bersembunyi di tempat kerja Hwaryung. Jung meminta Gwanghae agar tidak lagi menemui dirinya karena ia dan ayahnya tidak ingin diganggu. Gwanghae dengan berat hati mengiyakan. Kangchon, Yukdo, dan Imhae hampir tidak percaya bahwa keramik raja Taejo bisa kembali seperti semula. Ketika Raja Seonjo datang, ia senang karena anaknya bisa menjaga kepercayaan. Namun, tiba-tba Yukdo menngaku bahwa keramik Taejo pernah pecah. Rahasia pun hampir terbongkar!
EPISODE 4
                Semua orang terkejut dengan keberanian dan kelancangan Yukdo menyebut keramik Taejo pernah pecah dan diperbaiki. Raja pun tidak percaya dan meminta Yukdo membuktikannya. Air panas dituangkan ke keramik, namun tidak terjadi apa-apa. Di tempat lain, Jung dan ayahnya berharap bahwa semua akan baik-baik saja. Jung menjelaskan bahwa ia memakai lem perekat yang berasal dari lendir cacing tanah sehingga tida terjadi retak. Di istana raja tidak sabar dan akan menghukum Yukdo. Namun Kangchon mengintervensi dan memecahkan keramik Taejo (lagi!!). Kangchon menjelaskan perbedaan pecahan keramik yang baru dan yang lama.
Raja marah dan Gwanghae pun mengaku kalau itu ulahnya sedangkan Imhae berdiri ketakutan. Raja memerintahkan Euldam ditangkap. Euldam diseret oleh pengawal istana. Jung datang membantu tetapi malah didorong. Untung ada Taedo yang menolongnya, Taedo melindungi tubuh Jung dan membiarkan tubuhnya dipukuli oleh pengawal. Di istana Gwanghae meminta keringanan hukuman kepada Raja. Raja menolak dan mengintrogasi Euldam sendiri. Sedangkan Jung menangis karena ayahnya harus dihukum karena dirinya. Ratu Inbin gembira dengan kejadian itu karena akan menguntungkan putranya. Sedangkan Gwanghae bersedih karena melibatkan Jung dalam masalah itu. Jung lalu datang ke istana dan menemui raja secara langsung. Ia mengaku ia sendiri yang memperbaiki keramik itu dan bukan ayahnya. Raja ingin mengujinya dan memberinya tugas membuat keramik yang paling indah. Padahal Jung selama ini hanya bisa memperbaiki dan tidak bisa membuat keramik.
Jung awalnya frustasi tapi ada Taedo yang membantunya. Taedo membawakan keramik dari Ming China yang dipinjam dari Hwaryung. Bukannya segera membuat keramik, Jung malah keasyikan memandangi keindahan keramik Ming dan semakin frustasi karena tidak bisa membuat keramik. LOL. Gwanghae meminta Taedo sebagai pengawal pribadinya, sebagai gantinya Taedo meminta Gwanghae melindungi Jung ketika ia akan menghadap raja. Disisi lain, Jung bermimpi bertemu gurunya.
Gurunya berkata,”Apa hal yang menurutmu paling indah? Kalau aku hal itu adalah anggur karena anggur bisa membangkitkan semangat. Coba kalau tidak ada anggur? Hah, aku tidak akan berani membayangkan. Nah, apa yang paling kamu senangi dan paling indah? Hal yang paling kamu takutkan jika kehilangannya. Mulailah dari itu.”

Setelah itu Jung mengingat kenangan bersama ayahnya dan semua ucapan ayahnya. Ia pun siap membuat keramik. Esoknya Jung membawa bungkusan ke istana dan menghadap raja dan para menterinya. Keramik buatan Jung biasa-biasa saja namun arti keramik itu sukses menggerakkan hati raja. Ia membuat mangkuk teh dan menceritakannya sebagai simbol cinta kedua orang tuanya. Raja mengatakan ia merasa kasihan padanya. Sedangkan Jung menganggap raja tidak pantas menduduki tahta. Semua mata terkejut memandang Jung. Raja minta penjelasan dan Jung menjelaskan bahwa sebagai raja ia harus menghargai jerih payah rakyatnya dan melihat apa yang dilihat rakyatnya. PM mengambil kesempatan untuk memojokkan Jung tapi Gwanghae membalas dengan mengatakan ia juga kehilangan ibu seperti Jung dan ia tidak dihukum padahal telah memecahkan keramik. Akhirnya raja angkat bicara dan memaafkan ayah Jung, bukan karena keindahan keramik Jung, melainkan karena keberanian dan bakti Jung kepada ayahnya sesuai nilai Konfusianisme (didukung akting nangis juga tentunya).
Ayah Jung, Euldam bebas dan Jung berterimakasih pada Gwanghae. Sayangnya Gwanghae mengaku bahwa sebenarnya dari awal keramiknya sudah pecah dan bukan salah Jung. Jung marah dan tidak mau menemui Gwanghae lagi. Di rumah, Jung, ayahnya, dan keluarga Taedo merayakan bebasnya Euldam. Sedangkan Gwanghae pergi menemui Kangchon dan berniat mengangkat Euldam sebagai master keramik di Bunwon. Kangchon semakin kecewa dan marah. Malam harinya, Kangchon menyuruh bawahannya membunuh Euldam.
KESIMPULAN
        Episode 1-4 merupakan pembuka yang bagus untuk mengawali drama sepanjang 32 episode ini. Walaupun tidak ada yang baru dan semua jalinan plot kurang lebih sama dengan cerita tentang pahlawan atau orang hebat lainnya. Cerita diawali dengan kelahiran sang tokoh utama yang biasanya tidak punya orang tua/diadopsi, masa kecil tokoh utama yang jenius lalu bertemu dengan cinta pertamanya, lalu sang tokoh mendapat ujian. Tiba-tiba saja tokoh utama yang sebelumnya tidak bisa sama sekali, berkat kejeniusan dan bakatnya tiba-tiba bisa dalam semalam. Bagi yang tidak familiar dengan sageuk atau drama sejarah pasti masih asing dan kesulitan dengan ungkapan dan bahasa yang digunakan karena dialog sageuk memang berbeda dari dialog drama modern. Penggunaan kamera dan sinematografi cukup baik tetapi ada beberapa bagian yang diedit dan efeknya terlalu alay dan lebay bagi saya. Penulisannya pun masih kurang sempurna dan belum memikat hati 100% dan cerita mudah ditebak.
Karakter di drama ini menarik, seperti karakter Kangchon yang iri pada Euldam, Yukdo yang ingin berguru ke Euldam, dan Gwanghae yang bijaksana, maupun Imhae yang iri dan kekanak-kanakan. Akting dari pemeran masa muda masing-masing tokoh utama pun mumpuni. Tapi jujur saya menunggu drama ini karena Moon Geun Young, Kim Bum, dan Lee Kwang Soo yang baru muncul di episode 5. Jadi setelah episode1-4 recap akan saya buat per episode. Insyaallah!